Cara MENG-HACK FACEBOOK

Posted in 1 on Januari 17, 2010 by r3nji
Mencuri Password dan Username Facebook Dengan Keylogger
Apa itu keylogger? sebenarnya keylogger itu semacam software yang digunakan untuk memantau kegiatan keyboard komputer, setiap tombol yang di tekan oleh user maka semua record akan di simpan dengan keylogger.
Buat para orang tua biasa nya mereka memantau anak nya yang sedang browsing dengan cara memasang keylogger di komputer, jadi semua situs yang di “search” oleh si anak akan terekam oleh keylogger. sehingga semua situs yang berbau porno bisa langsung ketahuan oleh si orang tua.
Biasa nya keylogger akan di deteksi sebagai vrus oleh “antivirus”, karena memang keylogger bisa menjadi 2 mata pisau yang bisa MENGAMANKAN dan juga bisa MEMATIKAN.
Maksud nya mematikan adalah, keylogger bisa saja di gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan hacking, banyak orang ingin mencoba melakukan hack pada situs social networking seperti facebook dan friendster.
Jadi tinggal di instal di komputer lalu orang yang menggunakan komputer tersebut akan terekam seluruh kegiatan nya termasuk kegiatan memasukkan “password dan username” facebook dan friendster. bisa saja hal ini dilakukan oleh para pemilik warnet yang iseng dan tidak bertanggung jawab, atau bisa saja dilakukan oleh si pengguna komputer sebelum nya dengan cara mematikan fungsi antivirus nya terlebih dahulu lalu kemudian menginstall keylogger.
Untuk mencari keylogger bisa di cari di kotak kiri sebelah atas dengan kata kunci “keylogger”, nah kalo udah download jangan di pake buat yang negatif-negatif ya…ini hanya buat contoh saja.
Nah, ada beberapa cara untuk menghindari cara pencurian “privacy” seperti ini:
1. Lihat search engine di kiri atas “HasiAulia.Net” lalu cari dengan kata kunci “save password” atau “encrypt password”
2. Simpan baik-baik aplikasi tersebut di flashdisk anda dan ketika anda ingin mengisi username dan password di facebook atau friendstersilahkan jalankan aplikasi tersebut, maka keylogger pun akan ter-enkripsi (teracak-acak) dalam menyimpan kegiatan keyboard kita. sehingga keylogger tidak akan bisa mencuri password dan username kita.
Untuk mendownload keyloggernya bisa di download di

Mencuri Password dan Username Facebook Dengan KeyloggerApa itu keylogger? sebenarnya keylogger itu semacam software yang digunakan untuk memantau kegiatan keyboard komputer, setiap tombol yang di tekan oleh user maka semua record akan di simpan dengan keylogger.
Buat para orang tua biasa nya mereka memantau anak nya yang sedang browsing dengan cara memasang keylogger di komputer, jadi semua situs yang di “search” oleh si anak akan terekam oleh keylogger. sehingga semua situs yang berbau porno bisa langsung ketahuan oleh si orang tua.Biasa nya keylogger akan di deteksi sebagai vrus oleh “antivirus”, karena memang keylogger bisa menjadi 2 mata pisau yang bisa MENGAMANKAN dan juga bisa MEMATIKAN.Maksud nya mematikan adalah, keylogger bisa saja di gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan hacking, banyak orang ingin mencoba melakukan hack pada situs social networking seperti facebook dan friendster.Jadi tinggal di instal di komputer lalu orang yang menggunakan komputer tersebut akan terekam seluruh kegiatan nya termasuk kegiatan memasukkan “password dan username” facebook dan friendster. bisa saja hal ini dilakukan oleh para pemilik warnet yang iseng dan tidak bertanggung jawab, atau bisa saja dilakukan oleh si pengguna komputer sebelum nya dengan cara mematikan fungsi antivirus nya terlebih dahulu lalu kemudian menginstall keylogger.Untuk mencari keylogger bisa di cari di kotak kiri sebelah atas dengan kata kunci “keylogger”, nah kalo udah download jangan di pake buat yang negatif-negatif ya…ini hanya buat contoh saja.Nah, ada beberapa cara untuk menghindari cara pencurian “privacy” seperti ini:

1. Lihat search engine di kiri atas “HasiAulia.Net” lalu cari dengan kata kunci “save password” atau “encrypt password”

2. Simpan baik-baik aplikasi tersebut di flashdisk anda dan ketika anda ingin mengisi username dan password di facebook atau friendstersilahkan jalankan aplikasi tersebut, maka keylogger pun akan ter-enkripsi (teracak-acak) dalam menyimpan kegiatan keyboard kita. sehingga keylogger tidak akan bisa mencuri password dan username kita.Untuk mendownload keyloggernya bisa di download di

http://rapidshare.com/files/191921436/Aio_Keyloggers_Pack.part1.rar
http://rapidshare.com/files/191921441/Aio_Keyloggers_Pack.part2.rar

TAKDIR DAN KEBEBASAN MANUSIA

Posted in 1 on Januari 17, 2010 by r3nji
DALAM pembicaraan sehari-hari kata “takdir” cenderung difahami sebagai kepastian yang mesti disikapi dengan kepsrahan, tidak perlu dinalar secara kritis. Namun kalau kita membaca Al-Qur’an, banyak ditemukan kata takdir yang kalau dicermati maknanya menunjuk pada hukum alam yang mengandung hukum kasulaitas, sebab-akibat.
Takdir adalah ketentuan, ukuran dan kapastian yang telah ditetapkan Tuhan yang berlaku pada isi semesta ini. Contoh yang paling mudah adalah bunyi ayat Al-Qur’an (36:38) yang menyatakan, matahari dan bulan berputar pada garis edarnya, dan itu merupakan takdir Tuhan. Dalam ayat-ayat yang lain, kata takdir memiliki makna sangat berdekatan, bahwa takdir berarti ketentuan Tuhan yang berlaku pada perilaku alam. Karena adanya takdir atau kepastian perilaku alam inilah maka ilmu pengetahuan alam menjadi berkembang dan berdiri kokoh. Kalau saja perilaku alam tidak memiliki kepastian sehingga sulit diprediksi, maka manusia sulit mengembangkan iptek moderen, karena iptek berjalan berdasarkan adanya hukum atau sifat alam yang serba pasti. Kata pasti tentu mesti dibedakan dari kata mutlak, absolut.
Ilmu falaq yang menghasilkan kalender sebagai pedoman hari, bulan dan tahun dimungkinkan karena adanya ketetapan atau keajegan peredaran bulan dan matahari yang semua itu merupakan takdir atau kepastian dari Tuhan. Al-Qur’an menyebutkan, Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (QS al-Furqan : 2). Misalnya, Allah menciptakan air dan menciptakan takdirnya, mencakup sifatnya yang kalau dipanaskan menguap, kalau didinginkan menjadi beku. Juga takdir air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Tuhan juga mentakdirkan  angin yang memiliki kekuatan daya dorong sehingga walaupun air berada di tempat  rendah jika dipompa secara keras maka akan naik ke atas. Semuanya ini berlangsung mengikuti takdir Tuhan.
Contoh lain, manusia ditakdirkan tidak bisa terbang seperti burung. Namun karena anak-anak Adam ditakdirkan memiliki kapasitas ilmu maka manusia bisa menciptakan pesawat yang terbang bagaikan burung. Manusia ditakdirkan tidak bisa hidup di air bagaikan ikan. Namun dengan kemampuan takdir yang melekat pada manusia, manusia berhasil menciptakan kapal selam.
Demikianlah, jadi untuk melaksanakan mandat sebagai khalifah Tuhan di muka bumi manusia diberi kemampuan sebagai manager mengolah takdir, terutama melalui perangkat ilmu pengetahuan untuk memahami hukum sebab-akibat yang telah ditakdirkan Tuhan pada setiap ciptaaanNya. Dengan ilmu pengetahuan manusia mengidentifikasi sifat dan perilaku alam, kemudian mengaturnya. Misalnya, manusia mempertemukan bahan bakar dan api, maka muncul tenaga sehingga bisa menggerakkan mesin mobil atau paberik. Atau mempertemukan panas dan air dalam panci yang diisi beras, maka jadilah nasi. Inilah yang dimaksud manusia sebagai manajer takdir.
Jadi di sinilah mengapa Tuhan berfirman  “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,” (QS al-Baqarah : 31). Dengan mengenal sifat benda-benda di sekitarnya maka manusia membuat klasifikasi dan identifikasi takdir yang melekat pada benda-benda itu untuk didayagunakan demi memenuhi kebutuhan manusia. Dengan demikian, mengelola takdir ibarat main catur, pemain memiliki kebebasan untuk menggelola dan menggerakkan pion-pionnya di atas papan catur, namun gerakan dan aturannya sudah pasti, tidak bisa dirubah.
Begitulah halnya dengan kehidupan. Tuhan telah menciptakan takdir yang serba pasti di atas papan semesta ini, namun manusia dianugerahi nalar dan kebebasan untuk memahami takdir-takdir Tuhan lalu memilih perbuatan atau karya apa yang akan dibuatnya. Kalau seseorang memilih loncat dari bangunan tinggi, maka tubuh akan hancur, kepala akan pecah. Itulah hukum alam, itulah takdir yang ditetapkan Tuhan. Yang menjadi persoalan, mengapa seseorang mesti loncat bunuh diri, di situlah terletak ruang kebebasan yang dimiliki manusia untuk membuat pilihan.
Takdir perlu dibedakan dari musibah, meski terdapat keterkaitan. Musibah artinya suatu kejadian yang tidak diinginkan menimpa seseorang. Jika lempengan perut bumi patah lalu terjadi gempa, di situ berlaku takdir Tuhan, bahwa daya tahan lempeng bumi ada batasnya. Batas atau ukuran itu juga disebut takdir. Di situ berlaku hukum sebab akibat. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang berada dalam waktu dan tempat yang secara lahiriah salah, sehingga terkena musibah. Gempanya sendiri merupakan fenomena alam, berlaku hukum sebab-akibat mengapa terjadi gempa.
Tetapi jika manusia sudah tahu di situ dikenal sebagai daerah gempa, namun tidak mau pindah, maka anugerah kebebasan yang dimiliki tidak dimanfaatkan untuk menjauhi musibah gempa. Jika seseorang sama sekali tidak tahu, atau sudah berusaha maksimal namun musibah terjadi, maka di situlah kita mesti bersangka baik pada takdir dan musibah yang menimpa seseorang. Di situ ada hukum sebab-akibat yang kita tidak tahu, dan sebaiknya kita sikapi dengan pasrah dan ikhlas, semuanya dikembalikan pada Tuhan Pemilik kehidupan.
Orang Jepang mungkin merupakan contoh bagaimana mereka berkompromi dan mengelola takdir, berkaitan dengan sifat alamnya yang sering gempa. Karena di Jepang kerap terjadi gempa bumi, maka dibuatlah rumah-rumah kayu tahan gempa agar tidak roboh. Artinya mereka sudah memahami dan bersahabat dengan takdir alamnya yang seringkali gempa. Jadi, alamnya  ditakdirkan sering gempa, lalu dengan takdir Tuhan yang telah memberi akal maka mereka mensiasati agar gempa tidak mendatangkan musibah.
Contoh lain adalah bangunan tinggi yang mudah terancam petir. Maka langkah komprominya dengan memberi penangkal petir, entah itu bangunan masjid, paberik atau bangunan lain. Demikian kalau ada musibah manusia tidak dibenarkan terus menyerahkan atau menyalahkan Tuhan. Contoh lain, perut telah ditakdirkan Tuhan kemampuan daya tampungnya. Kalau manusia tidak mentaati takdir kapasitas perut lalu makan tanpa batas, maka musibah akan terjadi.
Demikianlah seterusnya, manusia tidak bisa keluar dari takdir, karena semua ciptaan Tuhan telah ditentukan sifatnya sehingga manusia diminta memahaminya agar tidak terjadi musibah. Kalau pun terjadi musibah, itu pun ada hukum sebab-akibatnya, namun ada yang kita ketahui dan ada yang kita tidak sanggup mengetahui penyebabnya.
Ada peristiwa yang jarak sebab dengan akibatnya begitu pendek sehingga kita cepat memahami. Misalnya ketika tangan terkena duri, maka jarak  sebab dan akibatnya berupa sakit langsung kelihatan. Ada yang jaraknya agak lama, jika semalam kurang tidur maka akibatnya di siang hari kurang sehat. Ada lagi yang tahunan, jika sewaktu muda tidak belajar dan malas, maka akibatnya di hari tua akan bodoh dan miskin.
Yang manusia sering lupa dan terlena adalah sebab-akibat yang berlaku di dunia dan akhirat. Akibat dari aktivitas  di dunia baru akan dijumpai di akhirat nanti. Karena masih nanti, dan belum dialami, maka manusia mudah meremehkan. Pada hal itu termasuk takdir, hukum sebab-akibat yang pasti, namun kita sering meragukan bahkan menafikan. Di situlah manusia memiliki kebebasan, apakah akan beriman ataukah akan mengingkari, Tuhan memberi ruang kebebasan, namun seseorang tidak akan bisa lari dari akibat pilihannya.

DALAM pembicaraan sehari-hari kata “takdir” cenderung difahami sebagai kepastian yang mesti disikapi dengan kepsrahan, tidak perlu dinalar secara kritis. Namun kalau kita membaca Al-Qur’an, banyak ditemukan kata takdir yang kalau dicermati maknanya menunjuk pada hukum alam yang mengandung hukum kasulaitas, sebab-akibat.Takdir adalah ketentuan, ukuran dan kapastian yang telah ditetapkan Tuhan yang berlaku pada isi semesta ini. Contoh yang paling mudah adalah bunyi ayat Al-Qur’an (36:38) yang menyatakan, matahari dan bulan berputar pada garis edarnya, dan itu merupakan takdir Tuhan. Dalam ayat-ayat yang lain, kata takdir memiliki makna sangat berdekatan, bahwa takdir berarti ketentuan Tuhan yang berlaku pada perilaku alam. Karena adanya takdir atau kepastian perilaku alam inilah maka ilmu pengetahuan alam menjadi berkembang dan berdiri kokoh. Kalau saja perilaku alam tidak memiliki kepastian sehingga sulit diprediksi, maka manusia sulit mengembangkan iptek moderen, karena iptek berjalan berdasarkan adanya hukum atau sifat alam yang serba pasti. Kata pasti tentu mesti dibedakan dari kata mutlak, absolut.
Ilmu falaq yang menghasilkan kalender sebagai pedoman hari, bulan dan tahun dimungkinkan karena adanya ketetapan atau keajegan peredaran bulan dan matahari yang semua itu merupakan takdir atau kepastian dari Tuhan. Al-Qur’an menyebutkan, Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (QS al-Furqan : 2). Misalnya, Allah menciptakan air dan menciptakan takdirnya, mencakup sifatnya yang kalau dipanaskan menguap, kalau didinginkan menjadi beku. Juga takdir air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Tuhan juga mentakdirkan  angin yang memiliki kekuatan daya dorong sehingga walaupun air berada di tempat  rendah jika dipompa secara keras maka akan naik ke atas. Semuanya ini berlangsung mengikuti takdir Tuhan.
Contoh lain, manusia ditakdirkan tidak bisa terbang seperti burung. Namun karena anak-anak Adam ditakdirkan memiliki kapasitas ilmu maka manusia bisa menciptakan pesawat yang terbang bagaikan burung. Manusia ditakdirkan tidak bisa hidup di air bagaikan ikan. Namun dengan kemampuan takdir yang melekat pada manusia, manusia berhasil menciptakan kapal selam.
Demikianlah, jadi untuk melaksanakan mandat sebagai khalifah Tuhan di muka bumi manusia diberi kemampuan sebagai manager mengolah takdir, terutama melalui perangkat ilmu pengetahuan untuk memahami hukum sebab-akibat yang telah ditakdirkan Tuhan pada setiap ciptaaanNya. Dengan ilmu pengetahuan manusia mengidentifikasi sifat dan perilaku alam, kemudian mengaturnya. Misalnya, manusia mempertemukan bahan bakar dan api, maka muncul tenaga sehingga bisa menggerakkan mesin mobil atau paberik. Atau mempertemukan panas dan air dalam panci yang diisi beras, maka jadilah nasi. Inilah yang dimaksud manusia sebagai manajer takdir.
Jadi di sinilah mengapa Tuhan berfirman  “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,” (QS al-Baqarah : 31). Dengan mengenal sifat benda-benda di sekitarnya maka manusia membuat klasifikasi dan identifikasi takdir yang melekat pada benda-benda itu untuk didayagunakan demi memenuhi kebutuhan manusia. Dengan demikian, mengelola takdir ibarat main catur, pemain memiliki kebebasan untuk menggelola dan menggerakkan pion-pionnya di atas papan catur, namun gerakan dan aturannya sudah pasti, tidak bisa dirubah.
Begitulah halnya dengan kehidupan. Tuhan telah menciptakan takdir yang serba pasti di atas papan semesta ini, namun manusia dianugerahi nalar dan kebebasan untuk memahami takdir-takdir Tuhan lalu memilih perbuatan atau karya apa yang akan dibuatnya. Kalau seseorang memilih loncat dari bangunan tinggi, maka tubuh akan hancur, kepala akan pecah. Itulah hukum alam, itulah takdir yang ditetapkan Tuhan. Yang menjadi persoalan, mengapa seseorang mesti loncat bunuh diri, di situlah terletak ruang kebebasan yang dimiliki manusia untuk membuat pilihan.
Takdir perlu dibedakan dari musibah, meski terdapat keterkaitan. Musibah artinya suatu kejadian yang tidak diinginkan menimpa seseorang. Jika lempengan perut bumi patah lalu terjadi gempa, di situ berlaku takdir Tuhan, bahwa daya tahan lempeng bumi ada batasnya. Batas atau ukuran itu juga disebut takdir. Di situ berlaku hukum sebab akibat. Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang berada dalam waktu dan tempat yang secara lahiriah salah, sehingga terkena musibah. Gempanya sendiri merupakan fenomena alam, berlaku hukum sebab-akibat mengapa terjadi gempa.
Tetapi jika manusia sudah tahu di situ dikenal sebagai daerah gempa, namun tidak mau pindah, maka anugerah kebebasan yang dimiliki tidak dimanfaatkan untuk menjauhi musibah gempa. Jika seseorang sama sekali tidak tahu, atau sudah berusaha maksimal namun musibah terjadi, maka di situlah kita mesti bersangka baik pada takdir dan musibah yang menimpa seseorang. Di situ ada hukum sebab-akibat yang kita tidak tahu, dan sebaiknya kita sikapi dengan pasrah dan ikhlas, semuanya dikembalikan pada Tuhan Pemilik kehidupan.
Orang Jepang mungkin merupakan contoh bagaimana mereka berkompromi dan mengelola takdir, berkaitan dengan sifat alamnya yang sering gempa. Karena di Jepang kerap terjadi gempa bumi, maka dibuatlah rumah-rumah kayu tahan gempa agar tidak roboh. Artinya mereka sudah memahami dan bersahabat dengan takdir alamnya yang seringkali gempa. Jadi, alamnya  ditakdirkan sering gempa, lalu dengan takdir Tuhan yang telah memberi akal maka mereka mensiasati agar gempa tidak mendatangkan musibah.
Contoh lain adalah bangunan tinggi yang mudah terancam petir. Maka langkah komprominya dengan memberi penangkal petir, entah itu bangunan masjid, paberik atau bangunan lain. Demikian kalau ada musibah manusia tidak dibenarkan terus menyerahkan atau menyalahkan Tuhan. Contoh lain, perut telah ditakdirkan Tuhan kemampuan daya tampungnya. Kalau manusia tidak mentaati takdir kapasitas perut lalu makan tanpa batas, maka musibah akan terjadi.
Demikianlah seterusnya, manusia tidak bisa keluar dari takdir, karena semua ciptaan Tuhan telah ditentukan sifatnya sehingga manusia diminta memahaminya agar tidak terjadi musibah. Kalau pun terjadi musibah, itu pun ada hukum sebab-akibatnya, namun ada yang kita ketahui dan ada yang kita tidak sanggup mengetahui penyebabnya.
Ada peristiwa yang jarak sebab dengan akibatnya begitu pendek sehingga kita cepat memahami. Misalnya ketika tangan terkena duri, maka jarak  sebab dan akibatnya berupa sakit langsung kelihatan. Ada yang jaraknya agak lama, jika semalam kurang tidur maka akibatnya di siang hari kurang sehat. Ada lagi yang tahunan, jika sewaktu muda tidak belajar dan malas, maka akibatnya di hari tua akan bodoh dan miskin.
Yang manusia sering lupa dan terlena adalah sebab-akibat yang berlaku di dunia dan akhirat. Akibat dari aktivitas  di dunia baru akan dijumpai di akhirat nanti. Karena masih nanti, dan belum dialami, maka manusia mudah meremehkan. Pada hal itu termasuk takdir, hukum sebab-akibat yang pasti, namun kita sering meragukan bahkan menafikan. Di situlah manusia memiliki kebebasan, apakah akan beriman ataukah akan mengingkari, Tuhan memberi ruang kebebasan, namun seseorang tidak akan bisa lari dari akibat pilihannya.

Cinta yang Pergi

Posted in Penyejuk HAti on Desember 24, 2009 by r3nji

Cinta yang kurasa..
begitu indah kutemukan saat bersama dia,
mata yang memandang..
senyum yang melebar..
bagaikan seorang permaisuri raja,,
kau temaniku di dunia yang sepi
kau terangi aku di malam yang gelap

tapi kini kau pergi
tinggalkan hati yang haus akan cinta
ku duduk sendiri terpaku tak berdaya
tak mengerti mengapa smua ini terjadi
biar aku sendiri
melawan hati
yang perih karena cinta

Kegagalan Bukan AKhir Perjalanan

Posted in Penyejuk HAti on Desember 24, 2009 by r3nji

Perlahan manusia penuh dengan lika-liku
Selalu berbeda tanpa batas ruang dan waktu
Kegagalan kadang kala menyakitkan kalbu
Jika tiada pembimbing bagi hati yang pilu

Ketika akhir dari tujuan tidak menjadi milik anda
Hanya keikhlasanlah yg menolong pedihnya jiwa
Tatkala kegagalan terus membayangi langkah kita
Pasrahkanlah segalanya pada Sang maha Bijaksana

Percayalah bahwa Sang Pencipta maha mengetahui
Sehingga sanubari senantiasa berdzikir tanpa henti
Renungkanlah makna hidup setiap insan di dunia ini
Niscaya kebahagiaan akan merasuk dalam ruang hati

Kegagalan bukan akhir dari suatu perjalanan
Karna ia hanya sebatas ujian dalam kehidupan
Kerinduan akan kebahagiaan selalu didapatkan
Bagi seorang yg berfikir bahwa hidup adalah ujian

Jadilah hamba Allah yang baik saat menyikapi segala cobaan
Sehingga jiwa yang tenang menghampiri nuansa kebahagiaan
Tataplah masa depan melalui doa dalam langkah kemenangan
Karna tiada hal yang sia-sia dalam setiap jalan pengorbanan.

Apa itu Cinta…???

Posted in Penyejuk HAti on Desember 24, 2009 by r3nji

Oh, cinta
kau kurindu
kau kukejar
kau kudamba

Suatu saat
kau hilang
kau pergi
lenyap ke dalam sepi

Oh, cinta
apakah yang kurasa
ketika engkah t’lah tiada…?

Tasawuf Akhlaqi

Posted in Penyejuk HAti on Desember 23, 2009 by r3nji
Manusia tercipta dari saripati tanah dijadikan Allah sebagai media untuk memerlihatkan ruhnya. Manusia tersusun dari berbagai bagian ada jasad, ruh, jiwa (qolbu) dan anggota badan. Tasawuf memandang ruh sebagai puncak dari segala realitas. Sementara jasad tak lain hanyalah sebagai “kendaraan” belaka yang berfungsi mengantarkan dari apa yang dikehendaki oleh pengemudi (ruh). Maka jalan spiritualitas lebih banyak menekankan pada aspek ruhani. Ruh inilah yang paling dominan dan paling menentukan atas segala ahwal dan ihwal manusia. Kedudukan ruh di sini sangat mempengaruhi moral dan akhlak manusia dalam pencapaian tazkiyatun nafs karena ruh berfungsi mengontrol segala aktifitas yang di lakukan anggota badan. Untuk mencapai derajat ulya, maka manusia harus melewati beberapa level dan kondisi di bawah bimbingan guru spiritual (dalam tasawuf dikenal dengan istilah mursyid).
Masing-masing dari mursyid mempunyai metode dan cara yang berbeda untuk mencapai darajatul ulya karena berbeda thoriqoh; diantaranya adalah thariqoh Qodariyah dan Naqsyabandiyah pasti berbeda begitu pula thariqoh Syathoriyah, Syadziliyah, Tijaniyah, Dasuqiyah pasti mempunyai “trik” yang berbeda pula. Ada yang menyebutnya dengan istilah mukasyafah (menyingkap) atau khuduri (menghadirkan) atau tawajjuh (berhadap-hadapan). Manusia dilatih dan diajari untuk membuka mata batin (ainul qalb) dan tazkiyatun nafs (membersihkan hati) melalui thariqoh tadi dan menempuh dari level satu ke level yang lebih tinggi lainya, dari kondisi tertentu ke kondisi lain yang lebih tinggi. Hingga manusia mencapai tingkatan fana (kosong/hampa) sehingga tidak ada lagi ada ego dalam dirinya, sehingga manusia sampai pada kondisi ” mukasyafah “,” khudur ” atau ” tawajjuh”.
Ketika insan di lahirkan dalam dunia fana ini manusia mempunyai kontrak dan masa aktif, setelah jatuh tempo manusia tidak bisa mengelak lagi. Untuk mempersiapkannya ada lima unsur penting, Syekh Sayyid Nur bin Sayyid Ali mengilustrasikan dan mentashawwurkan lima unsur tadi dengan sebuah kerajaan; maka ruh adalah sang raja yang menyinari, kalbu ibarat singgasananya, hawa nafsu atau syahwat sebagai kelompok oposisi yang selalu merong-rong, mengusik stabilitas kerajaan dan memprovokasi rakyat. Sedangkan totalitas jasad bagaikan wilayah kekuasaan dan anggota badan bagaikan rakyatnya. Dari lima unsur tersebut terjadilah pertarungan perebutan kekuasaan antara hawa nfsu dan ruh (ruhaniyah/spiritual) sebagai kekuatan positif dan hawa nafsu sebagai kekuatan negativ. Pertarungan antara keduanya dinamakan mujahadah. Mujahadah tersebut bertujuan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa atau ruh; sang raja) dan ishlah al qalb (perbaikan hati; singgasana) dari sifat dan akhlak tercela, seperti takabbur (sombong), riya’, hasud, hirs (ambisius), dan penyakit-penyakit hati lainya. Maka hal yang paling penting adalah menjaga dan merawat hati dari jeratan kekuasaan hawa nafsu.
Tasawuf akhlaqi berbeda dengan tasawuf falsafi, setelah melewati beberapa level dan fase diatas taswuf akhlaqi mengajak kembali ke alam nyata dan kembali masuk dalam aturan syariat, syariat yang telah diisi dengan pengalaman dan pengetahuan bertuhan, berbeda dengan tasawuf falsafi yang setelah melewati fase-fase tersebut justru malah keenakan menikmati indahnya bersatu dengan Tuhan, sehingga memunculkan perkataan yang tidak terkontrol (syathohat) dalam kondisi ekstase sambil berujar dan mengucapkan bahwa dirinyalah yang paling baik memuji bahwa dirinya sendiri sebagai Tuhan, ” ana al haq” sebagaimana yang telah diucapkan oleh Al Hallaj dan “wahdatul wujud” sebagaimana yang telah diucapkan oleh Ibnu Araby. Permasalhan ini bagi kaum khas atau khawasul khawas mungkin tidak begitu dipermasalahkan namun bagi orang awam yang memang hanya menjalankan syariat tanpa dibarengi dengan tasawuf ini akan memunculkan sebuah masalah baru dengan alasan untuk kemaslahtan umum menjaga keimanan dari kalangan umum atau alsan-alasan yang sejenis maka mau tidak mau ppara praktisi tasawuf falsafi ini menyandang predikat sesat dan akhirnya mati terbunuh dengan tragis dan mengenaskan.
Bertemu dan bersatu dengan Tuhan adalah klaim kaum sufi yang masih diperdebatkan oleh kaum teologis dan para pakar fikih. Bahakan menurut sebagian kalangan islam yang agak ekstrim bahwa praktik tasawuf dianggap bid’ah. Oleh karena itu kita dituntut untuk bisa memahami islam secara kaffah dari berbagai macam aspek baik dari sisi teologi, tasawuf, fikih, dan filasafat agar tidak mudah terjebak dalam suatu kondisi yang saling memojokkan dan menyalahkan antara yang satu dengan yang lainnya karena ketidakmengertian kita atas metodologi yang digunakan.
Apa yang dicontohkan Al Ghazali dan Al Rumi patut diteladani bagi para praktisi tasawuf, setelah bertemu dengan Tuhan beliau langsung pulang kembali. Al Ghazali menghiasi syari’at dengan nilai-nilai hakikat. Dan Al Rumi mengekspresikan kebahagiaan dan rasa cinta serta rindu yang mendalam pada sang khalik melalui simbol-simbol (cinta, mawar, cawan dll) yang terlukiskan dalam bentuk tulisan syair dan karya sastra . Tasawuf memang tidak mudah serta merta diterima oleh akal karena tolok ukur tasawuf bukan rasionalitas melainkan ainul qalb (mata batin) yang diyakini juga dalam diri setiap manusia. Yang kadang sepintas muncul dan kita tidak mengenalinya lalu tertutup (terhijab) lagi oleh potensi atau hal lain dalam diri kita
C. Beberapa Keyakinan dalam Tasawuf Akhlaqi dan Falsafi
a. Nur Muhammad
Persoalan Nur Muhammadi sebenarnya persoalan filsafat yang merembes masuk ke dunia tasawuf. Oleh karena itu, permasalahan ini sering muncul pada tataran tasawuf falsafi .
Ada dua versi keyakinan tentang Nur Muhammad ini:
1. Keyakinan bahwa memang makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah sebelum qalam, lauh al mahfuzh dan ‘arsy adalah nur (cahaya) Muhammad. Dari asal inilah semua makhluk (?? ??? ???? ) diciptakan .
2. Menurut versi kedua yang berasal dari ungkapan sya’ir maulid syaraful anam, nur Muhammad itu berasal dari tanah yang diambil dari makam Rasulullah di Madinah. Malaikat Jibril membawa tanah tersebut berkeliling surga dan mencucinya di Telaga Tasnim. Kemudian nur itu dititipkan pada sulbi Nabi Adam. Nabi Adam berjanji akan memeliharanya dan hanya diturunkan kepada sulbi dan rahim orang-orang suci .
Teori yang paling dominan dalam memahami Nur Muhammad adalah menurut konsep Ibn Arabi, meskipun ia bukan pencetus pertama. Konsep Nur Muhammad pertama ada pada al-Tustari, kemudian pada muridnya, al-Hallaj.
Tuhan, menurut Ibn Arabi adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Ia ingin dikenal, tapi Tuhan Maha Transenden (tasbih/tanazzuh), siapapun tidak akan dapat mengenalnya secara langsung karena Ia tidak ada duanya (??? ????? ???). Istilah Ibn Arabi ”la ta’ayun”. Maka satu-satunya jalan untuk mengenalnya ialah melalui makhluk ciptaannya. Sebab persepsi rasio dan indera tidak akan mampu mengenal zat-Nya yang asli.. Melihat angin saja mata tidak mampu, begitu juga menatap matahari, apalagi Tuhan.
Satu-satunya jalan agar Allah bisa dikenal adalah bertajalli kepada makhluk, ciptaannya. Tajalli Tuhan yang sempurna ada pada manusia. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan, maka Adam adalah makhluk yang layak untuk menerima tajalli Allah, tetapi Adam kalah mulia dari Muhammad Saw yang dilahirkan sebagai Nabi Terakhir, kerana keberadaan Nur Muhammad lebih dahulu daripada Adam. Malah menurut Ibn Arabi nama Nur Muhammad itu bukan hanya satu, bahkan sampai 22 nama, termasuk hakikat Muhammadiyah, roh Muhammad, khalifah, akal pertama, namun maksudnya hanya satu, yaitu makhluk pertama yang dengannya Tuhan dapat bertajalli secara sempurna. Makhluk ini sebagai inti dan bahan alam semesta.
b. Wahdatul Adyan (atau dalam istilah Hazrat Inayat Khan , Universal Sufism)
Konsep wahdatul adyan sebenarnya tidak baru karena sudah dikenal dalam tradisi sufistik masa lalu, namun konsep ini menarik untuk ditilik dan ditela’ah kembali. Wahdatul adyan (kesatuan agama), demikian konsep tersebut dinamai, mengajarkan bahwa pada hakikatnya semua agama bertujuan sama dan mengabdi kepada Tuhan yang sama pula. Perbedaan yang ada hanyalah pada aspek lahiriah yakni penampilan-penampilan dan tata cara dalam melak ukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam konsep ini tidak ada lagi superioritas dan inferioritas agama karena berasal dari satu sumber yakni Tuhan.
Agama adalah serangkaian kesadaran manusia tentang eksistensi sesuatu yang telah menjadi pedoman hidup yang bersumber dari Tuhan. Dan agama yang adalah kesadaran itu sendiri berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi dan larangan-larangan yang harus dihindari, sehingga apa yang menjadi pilihan benar-benar merupakan kesadaran atas kehendaknya sendiri bukan atas dasar keterpaksaan. Inilah agama, tidak ada paksaan dalam beragama , karena agama adalah sebuah keyakinan dari sederetan pengetahuan yang membentuk kesadaran yang tak terelakkan. agama merupakan sumber ideologi yang diberikan Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya sebagai ideologi-pedoman hidup-untuk manusia melalui para utusan-Nya
Namun pada kenyataannya dalam kehidupan ini terdapat banyak ‘agama’, dan setiap ‘agama’ pun mempunyai beragam sekte (aliran), dimana setiap aliran mempunyai ideologinya masing-masing. Dalam persoalan seperti ini yang menjadi pertanyaan adalah apakah Tuhan memberikan banyak agama atau satu agama?
Semua agama yang namanya berbeda-beda: Islam, Yahudi, Kristen, dan lainnya hanyalah perbedaan nama, namun hakikatnya satu jua . Semua agama yang namanya berbeda-beda adalah jalan menuju Allah. Orang yang memilih agama atau lahir dalam lingkungan keluarga yang menganut salah satu agama, bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi telah ditentukan atau sudah ditakdirkan Allah. Dan begitu juga ibadah (ritual) yang berbeda warna dan cara, isinya hanya satu ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak perlu seorang mencela agama lain karena agama itu semua benar karena berasal dari Allah.
c. Hulul, Al Ittihad dan Wahdatul Wujud
Pemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wahdah al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah. Maka, tidaklah segala yang nampak ini kecuali penjelmaan dzat-Nya semata. Yaitu, Allah .
Ibnu Arabi berkata: “Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah Allah mengetahui kecuali Allah”. Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah orang-orang yang mengatakan :”Akulah Allah, Maha Suci Aku”. Seperti, Abu Yazid Al-Bustahmi. Katanya: “Rabb itu haq dan hamba itu haq. Maka, betapa malangku. Siapakah kalau demikian yang menjadi hamba? Jika aku katakan hamba, maka yang demikian itu haq, atau aku katakan Rabb, sesungguhnya aku hamba”. Dikatakan pula: “Suatu saat hamba menjadi Rabb tanpa diragukan, dan suatu saat seorang hamba menjadi hamba tanpa kedustaan”.
Salah satu tokoh yang fenomenal dalam wahdatul wujud adalah Abu Mansur Al Hallaj . Ia terkenal karena berkata: “Akulah Kebenaran (Ana al Haq)”, ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal.
d. Thariqah
Kurang lebih, arti dari syi’ir tersebut adalah bahwa syari’ah (aturan-aturan agama) dianalogikan sebagai perahu, sedangkan thariqah merupakan lautan yang diarungi dengan perahu tadi. Sedangkan haqiqah merupakan mutiara yang tersembunyi di dalam laut.
Thariqat, menurut para sufi, merupakan himpunan tugas-tugas perbaikan temporan-kondisional yang didasarkan pada pokok-pokok latihan pembelajaran yang dijadikan sebagai media untuk mencapai kesucian jiwa dan ketenangan kalbu, yaitu kesucian jiwa dari berbagai kotoran dan penolakan terhadap penyakit-penyakit hati. Dengan kata lain, thariqah ialah media untuk membersihkan wilayah batin dari berbagai serangga dan pepohonan berduri yang membahayakan pertumbuhan tanaman keimanan. Wabah tersebut ialah kemusyrikan (syirk), arogansi (takabbur), marah (ghadhab), dendam (hiqdu) dan perbuatan-perbuatan lain. Setelah pembersihan tersebut, diupayakan pemutusan segala hasrat seksual (syahwat) dan keinginan-keinginan biologis (hawa nafs) yang diharamkan, serta mengurung diri dari berbagai tuntutan maksiat dan kemungkaran .
Ayat-ayat Al-Quran
Beberapa ayat Al-Quran al-Karim menandasakan adanya qadha dan qadar serta pengaruh mutlaknya, dan bahwa setiap peristiwa alami pasti telah didahului oleh Kehendak Ilahi dan bahwa hal itu telah tersurat sebelumnya dalam suatu “kitab yang nyata”. Misalnya: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam suatu kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs.  Al-Hadid [57]: 22) “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.” (Qs. Al-An’am [6] : 59)
“Mereka berkata: “Aapakah ada bagi kita barang sesuatu hak (campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan apa yang tidak mereka terangkan kepadamu, mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh atau dikalahkan di sini.” Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh.” (Qs. Ali Imran [3] : 154)
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr [15] : 21)
“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (qadar) bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. Thalaq [65] : 3)
“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (Qs. Al-Qamar [54] : 49)
“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim [14] :4)
“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan orangyang Engkau kehendaki; Engkau muliakan orangyang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali Imran [3] : 26)
Sedangkan contoh ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya, mampu mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya adalah sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ra’ad [13] : 11)
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram; rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Qs. Al-Nahl [16]:112)
“Allah tidak sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut [29] : 40)
“Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Qs. Fushshilat [41] : 46)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinyajalanyang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Qs. Al-Insan [76] : 3)
“Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir.” (Qs. Al-Kahf [18] : 29)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (Qs. Al-Rum [30] : 41)
“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya; dan barangsiapa mengehendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia.” (Qs. Al-Syura [42] : 20)
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu; dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (Qs.  Al-Isra [17]: 18-20)

Manusia tercipta dari saripati tanah dijadikan Allah sebagai media untuk memerlihatkan ruhnya. Manusia tersusun dari berbagai bagian ada jasad, ruh, jiwa (qolbu) dan anggota badan. Tasawuf memandang ruh sebagai puncak dari segala realitas. Sementara jasad tak lain hanyalah sebagai “kendaraan” belaka yang berfungsi mengantarkan dari apa yang dikehendaki oleh pengemudi (ruh). Maka jalan spiritualitas lebih banyak menekankan pada aspek ruhani. Ruh inilah yang paling dominan dan paling menentukan atas segala ahwal dan ihwal manusia. Kedudukan ruh di sini sangat mempengaruhi moral dan akhlak manusia dalam pencapaian tazkiyatun nafs karena ruh berfungsi mengontrol segala aktifitas yang di lakukan anggota badan. Untuk mencapai derajat ulya, maka manusia harus melewati beberapa level dan kondisi di bawah bimbingan guru spiritual (dalam tasawuf dikenal dengan istilah mursyid).Masing-masing dari mursyid mempunyai metode dan cara yang berbeda untuk mencapai darajatul ulya karena berbeda thoriqoh; diantaranya adalah thariqoh Qodariyah dan Naqsyabandiyah pasti berbeda begitu pula thariqoh Syathoriyah, Syadziliyah, Tijaniyah, Dasuqiyah pasti mempunyai “trik” yang berbeda pula. Ada yang menyebutnya dengan istilah mukasyafah (menyingkap) atau khuduri (menghadirkan) atau tawajjuh (berhadap-hadapan). Manusia dilatih dan diajari untuk membuka mata batin (ainul qalb) dan tazkiyatun nafs (membersihkan hati) melalui thariqoh tadi dan menempuh dari level satu ke level yang lebih tinggi lainya, dari kondisi tertentu ke kondisi lain yang lebih tinggi. Hingga manusia mencapai tingkatan fana (kosong/hampa) sehingga tidak ada lagi ada ego dalam dirinya, sehingga manusia sampai pada kondisi ” mukasyafah “,” khudur ” atau ” tawajjuh”.Ketika insan di lahirkan dalam dunia fana ini manusia mempunyai kontrak dan masa aktif, setelah jatuh tempo manusia tidak bisa mengelak lagi. Untuk mempersiapkannya ada lima unsur penting, Syekh Sayyid Nur bin Sayyid Ali mengilustrasikan dan mentashawwurkan lima unsur tadi dengan sebuah kerajaan; maka ruh adalah sang raja yang menyinari, kalbu ibarat singgasananya, hawa nafsu atau syahwat sebagai kelompok oposisi yang selalu merong-rong, mengusik stabilitas kerajaan dan memprovokasi rakyat. Sedangkan totalitas jasad bagaikan wilayah kekuasaan dan anggota badan bagaikan rakyatnya. Dari lima unsur tersebut terjadilah pertarungan perebutan kekuasaan antara hawa nfsu dan ruh (ruhaniyah/spiritual) sebagai kekuatan positif dan hawa nafsu sebagai kekuatan negativ. Pertarungan antara keduanya dinamakan mujahadah. Mujahadah tersebut bertujuan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa atau ruh; sang raja) dan ishlah al qalb (perbaikan hati; singgasana) dari sifat dan akhlak tercela, seperti takabbur (sombong), riya’, hasud, hirs (ambisius), dan penyakit-penyakit hati lainya. Maka hal yang paling penting adalah menjaga dan merawat hati dari jeratan kekuasaan hawa nafsu.Tasawuf akhlaqi berbeda dengan tasawuf falsafi, setelah melewati beberapa level dan fase diatas taswuf akhlaqi mengajak kembali ke alam nyata dan kembali masuk dalam aturan syariat, syariat yang telah diisi dengan pengalaman dan pengetahuan bertuhan, berbeda dengan tasawuf falsafi yang setelah melewati fase-fase tersebut justru malah keenakan menikmati indahnya bersatu dengan Tuhan, sehingga memunculkan perkataan yang tidak terkontrol (syathohat) dalam kondisi ekstase sambil berujar dan mengucapkan bahwa dirinyalah yang paling baik memuji bahwa dirinya sendiri sebagai Tuhan, ” ana al haq” sebagaimana yang telah diucapkan oleh Al Hallaj dan “wahdatul wujud” sebagaimana yang telah diucapkan oleh Ibnu Araby. Permasalhan ini bagi kaum khas atau khawasul khawas mungkin tidak begitu dipermasalahkan namun bagi orang awam yang memang hanya menjalankan syariat tanpa dibarengi dengan tasawuf ini akan memunculkan sebuah masalah baru dengan alasan untuk kemaslahtan umum menjaga keimanan dari kalangan umum atau alsan-alasan yang sejenis maka mau tidak mau ppara praktisi tasawuf falsafi ini menyandang predikat sesat dan akhirnya mati terbunuh dengan tragis dan mengenaskan.Bertemu dan bersatu dengan Tuhan adalah klaim kaum sufi yang masih diperdebatkan oleh kaum teologis dan para pakar fikih. Bahakan menurut sebagian kalangan islam yang agak ekstrim bahwa praktik tasawuf dianggap bid’ah. Oleh karena itu kita dituntut untuk bisa memahami islam secara kaffah dari berbagai macam aspek baik dari sisi teologi, tasawuf, fikih, dan filasafat agar tidak mudah terjebak dalam suatu kondisi yang saling memojokkan dan menyalahkan antara yang satu dengan yang lainnya karena ketidakmengertian kita atas metodologi yang digunakan.Apa yang dicontohkan Al Ghazali dan Al Rumi patut diteladani bagi para praktisi tasawuf, setelah bertemu dengan Tuhan beliau langsung pulang kembali. Al Ghazali menghiasi syari’at dengan nilai-nilai hakikat. Dan Al Rumi mengekspresikan kebahagiaan dan rasa cinta serta rindu yang mendalam pada sang khalik melalui simbol-simbol (cinta, mawar, cawan dll) yang terlukiskan dalam bentuk tulisan syair dan karya sastra . Tasawuf memang tidak mudah serta merta diterima oleh akal karena tolok ukur tasawuf bukan rasionalitas melainkan ainul qalb (mata batin) yang diyakini juga dalam diri setiap manusia. Yang kadang sepintas muncul dan kita tidak mengenalinya lalu tertutup (terhijab) lagi oleh potensi atau hal lain dalam diri kitaC. Beberapa Keyakinan dalam Tasawuf Akhlaqi dan Falsafia. Nur MuhammadPersoalan Nur Muhammadi sebenarnya persoalan filsafat yang merembes masuk ke dunia tasawuf. Oleh karena itu, permasalahan ini sering muncul pada tataran tasawuf falsafi .Ada dua versi keyakinan tentang Nur Muhammad ini:1. Keyakinan bahwa memang makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah sebelum qalam, lauh al mahfuzh dan ‘arsy adalah nur (cahaya) Muhammad. Dari asal inilah semua makhluk (?? ??? ???? ) diciptakan .2. Menurut versi kedua yang berasal dari ungkapan sya’ir maulid syaraful anam, nur Muhammad itu berasal dari tanah yang diambil dari makam Rasulullah di Madinah. Malaikat Jibril membawa tanah tersebut berkeliling surga dan mencucinya di Telaga Tasnim. Kemudian nur itu dititipkan pada sulbi Nabi Adam. Nabi Adam berjanji akan memeliharanya dan hanya diturunkan kepada sulbi dan rahim orang-orang suci .
Teori yang paling dominan dalam memahami Nur Muhammad adalah menurut konsep Ibn Arabi, meskipun ia bukan pencetus pertama. Konsep Nur Muhammad pertama ada pada al-Tustari, kemudian pada muridnya, al-Hallaj.Tuhan, menurut Ibn Arabi adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Ia ingin dikenal, tapi Tuhan Maha Transenden (tasbih/tanazzuh), siapapun tidak akan dapat mengenalnya secara langsung karena Ia tidak ada duanya (??? ????? ???). Istilah Ibn Arabi ”la ta’ayun”. Maka satu-satunya jalan untuk mengenalnya ialah melalui makhluk ciptaannya. Sebab persepsi rasio dan indera tidak akan mampu mengenal zat-Nya yang asli.. Melihat angin saja mata tidak mampu, begitu juga menatap matahari, apalagi Tuhan.Satu-satunya jalan agar Allah bisa dikenal adalah bertajalli kepada makhluk, ciptaannya. Tajalli Tuhan yang sempurna ada pada manusia. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan, maka Adam adalah makhluk yang layak untuk menerima tajalli Allah, tetapi Adam kalah mulia dari Muhammad Saw yang dilahirkan sebagai Nabi Terakhir, kerana keberadaan Nur Muhammad lebih dahulu daripada Adam. Malah menurut Ibn Arabi nama Nur Muhammad itu bukan hanya satu, bahkan sampai 22 nama, termasuk hakikat Muhammadiyah, roh Muhammad, khalifah, akal pertama, namun maksudnya hanya satu, yaitu makhluk pertama yang dengannya Tuhan dapat bertajalli secara sempurna. Makhluk ini sebagai inti dan bahan alam semesta.b. Wahdatul Adyan (atau dalam istilah Hazrat Inayat Khan , Universal Sufism)Konsep wahdatul adyan sebenarnya tidak baru karena sudah dikenal dalam tradisi sufistik masa lalu, namun konsep ini menarik untuk ditilik dan ditela’ah kembali. Wahdatul adyan (kesatuan agama), demikian konsep tersebut dinamai, mengajarkan bahwa pada hakikatnya semua agama bertujuan sama dan mengabdi kepada Tuhan yang sama pula. Perbedaan yang ada hanyalah pada aspek lahiriah yakni penampilan-penampilan dan tata cara dalam melak ukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam konsep ini tidak ada lagi superioritas dan inferioritas agama karena berasal dari satu sumber yakni Tuhan.Agama adalah serangkaian kesadaran manusia tentang eksistensi sesuatu yang telah menjadi pedoman hidup yang bersumber dari Tuhan. Dan agama yang adalah kesadaran itu sendiri berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi dan larangan-larangan yang harus dihindari, sehingga apa yang menjadi pilihan benar-benar merupakan kesadaran atas kehendaknya sendiri bukan atas dasar keterpaksaan. Inilah agama, tidak ada paksaan dalam beragama , karena agama adalah sebuah keyakinan dari sederetan pengetahuan yang membentuk kesadaran yang tak terelakkan. agama merupakan sumber ideologi yang diberikan Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya sebagai ideologi-pedoman hidup-untuk manusia melalui para utusan-NyaNamun pada kenyataannya dalam kehidupan ini terdapat banyak ‘agama’, dan setiap ‘agama’ pun mempunyai beragam sekte (aliran), dimana setiap aliran mempunyai ideologinya masing-masing. Dalam persoalan seperti ini yang menjadi pertanyaan adalah apakah Tuhan memberikan banyak agama atau satu agama?Semua agama yang namanya berbeda-beda: Islam, Yahudi, Kristen, dan lainnya hanyalah perbedaan nama, namun hakikatnya satu jua . Semua agama yang namanya berbeda-beda adalah jalan menuju Allah. Orang yang memilih agama atau lahir dalam lingkungan keluarga yang menganut salah satu agama, bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi telah ditentukan atau sudah ditakdirkan Allah. Dan begitu juga ibadah (ritual) yang berbeda warna dan cara, isinya hanya satu ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak perlu seorang mencela agama lain karena agama itu semua benar karena berasal dari Allah.c. Hulul, Al Ittihad dan Wahdatul WujudPemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wahdah al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah. Maka, tidaklah segala yang nampak ini kecuali penjelmaan dzat-Nya semata. Yaitu, Allah .Ibnu Arabi berkata: “Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah Allah mengetahui kecuali Allah”. Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah orang-orang yang mengatakan :”Akulah Allah, Maha Suci Aku”. Seperti, Abu Yazid Al-Bustahmi. Katanya: “Rabb itu haq dan hamba itu haq. Maka, betapa malangku. Siapakah kalau demikian yang menjadi hamba? Jika aku katakan hamba, maka yang demikian itu haq, atau aku katakan Rabb, sesungguhnya aku hamba”. Dikatakan pula: “Suatu saat hamba menjadi Rabb tanpa diragukan, dan suatu saat seorang hamba menjadi hamba tanpa kedustaan”.Salah satu tokoh yang fenomenal dalam wahdatul wujud adalah Abu Mansur Al Hallaj . Ia terkenal karena berkata: “Akulah Kebenaran (Ana al Haq)”, ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal.
d. ThariqahKurang lebih, arti dari syi’ir tersebut adalah bahwa syari’ah (aturan-aturan agama) dianalogikan sebagai perahu, sedangkan thariqah merupakan lautan yang diarungi dengan perahu tadi. Sedangkan haqiqah merupakan mutiara yang tersembunyi di dalam laut.Thariqat, menurut para sufi, merupakan himpunan tugas-tugas perbaikan temporan-kondisional yang didasarkan pada pokok-pokok latihan pembelajaran yang dijadikan sebagai media untuk mencapai kesucian jiwa dan ketenangan kalbu, yaitu kesucian jiwa dari berbagai kotoran dan penolakan terhadap penyakit-penyakit hati. Dengan kata lain, thariqah ialah media untuk membersihkan wilayah batin dari berbagai serangga dan pepohonan berduri yang membahayakan pertumbuhan tanaman keimanan. Wabah tersebut ialah kemusyrikan (syirk), arogansi (takabbur), marah (ghadhab), dendam (hiqdu) dan perbuatan-perbuatan lain. Setelah pembersihan tersebut, diupayakan pemutusan segala hasrat seksual (syahwat) dan keinginan-keinginan biologis (hawa nafs) yang diharamkan, serta mengurung diri dari berbagai tuntutan maksiat dan kemungkaran .
Ayat-ayat Al-Quran
Beberapa ayat Al-Quran al-Karim menandasakan adanya qadha dan qadar serta pengaruh mutlaknya, dan bahwa setiap peristiwa alami pasti telah didahului oleh Kehendak Ilahi dan bahwa hal itu telah tersurat sebelumnya dalam suatu “kitab yang nyata”. Misalnya: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam suatu kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs.  Al-Hadid [57]: 22) “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.” (Qs. Al-An’am [6] : 59)
“Mereka berkata: “Aapakah ada bagi kita barang sesuatu hak (campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan apa yang tidak mereka terangkan kepadamu, mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh atau dikalahkan di sini.” Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh.” (Qs. Ali Imran [3] : 154)
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr [15] : 21)
“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (qadar) bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. Thalaq [65] : 3)
“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (Qs. Al-Qamar [54] : 49)
“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim [14] :4)
“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan orangyang Engkau kehendaki; Engkau muliakan orangyang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali Imran [3] : 26)
Sedangkan contoh ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya, mampu mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya adalah sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ra’ad [13] : 11)
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram; rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Qs. Al-Nahl [16]:112)
“Allah tidak sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut [29] : 40)
“Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Qs. Fushshilat [41] : 46)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinyajalanyang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Qs. Al-Insan [76] : 3)
“Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir.” (Qs. Al-Kahf [18] : 29)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (Qs. Al-Rum [30] : 41)
“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya; dan barangsiapa mengehendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia.” (Qs. Al-Syura [42] : 20)
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu; dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (Qs.  Al-Isra [17]: 18-20)

Aliran Qadariyah

Posted in Penyejuk HAti on Desember 23, 2009 by r3nji
    Qadariyah
    Qadariyah mula-mula ditimbulkan pertama kali sekitar tahun 70 H/689 M, dipimpin oleh seorang bernama Ma’bad al-Juhani dan Ja’ad bin Dirham, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M). Menurut Ibn Nabatah, Ma’bad al-Juhani dan temannya Ghailan al-Dimasyqi mengambil faham ini dari seorang Kristen yang masuk Islam di Irak. Ma’ad al-Juhni adalah seorang tabi’in, pernah belajar kepada Washil bin Atho’, pendiri Mu’tazilah. Dia dihukum mati oleh al-Hajaj, Gubernur Basrah, karena ajaran-ajarannya. Dan menurut al-Zahabi, Ma’ad adalah seorang tabi’in yang baik, tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak Abd al-Rahman ibn al-Asy’as, gubernur Sajistan, dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah. Dalam pertempuran dengan al-Hajjaj, Ma’ad mati terbunuh dalam tahun 80 H.
    Sedangkan Ghailan al-Dimasyqi adalah penduduk kota Damaskus. Ayahnya seorang yang pernah bekerja pada khalifah Utsman bin Affan. Ia datang ke Damaskus pada masa pemerintahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H). Ghailan juga dihukum mati karena faham-fahamnya. Ghailan sendiri menyiarkan faham Qadariyahnya di Damaskus, tetapi mendapat tantangan dari khalifah Umar ibn Abd al-Aziz. Menurut Ghailan, manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya, manusia sendirilah yang melakukan perbuatan-perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaannya sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Dalam faham ini manusia merdeka dalam tingkah lakunya. Di sini tak terdapat faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu, dan bahwa manusia dalam perbuatan-perbuatannya hanya bertindak menurut nasibnya yang telah ditentukan semenjak azal. Selain penganjur faham Qadariyah, Ghailan juga merupakan pemuka Murji’ah dari golongan al-Salihiah. Tokoh-tokoh faham Qadariyah antara lain : Abi Syamr, Ibnu Syahib, Galiani al-Damasqi, dan Saleh Qubbah.
    Kaum Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut faham Qadaiyah, manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan demikian nama Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar atau kadar Tuhan. Dalam istilah inggrisnya faham ini dikenal dengan nama free will dan free act.
    Mereka, kaum Qadariyah mengemukakan dalil-dalil akal dan dalil-dalil naqal (Al-Qur’an dan Hadits) untuk memperkuat pendirian mereka. Mereka memajukan dalil, kalau perbuatan manusia sekarang dijadikan oleh Tuhan, juga kenapakah mereka diberi pahala kalau berbuat baik dan disiksa kalau berbuat maksiat, padahal yang membuat atau menciptakan hal itu adalah Allah Ta’ala.
    Dikemukakan pula dalil dari ayat-ayat al-Qur’an yang ditafsirkan sendiri oleh kaum Qadariyah sesuai dengan madzhabnya, tanpa memperhatikan tafsir-tafsir dari Nabi dan sahabat Nabi ahli tafsir. Misalnya mereka kemukakan ayat, yang artinya :
    “Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barang yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. (QS. Al-Kahfi : 29).
    Menurut Qadariyah, dalam ayat ini, bahwa iman dan kafir dari seseorang tergantung pada orang itu, bukan lagi kepada Tuhan. Ini suatu bukti bahwa manusialah yang menentukan, bukan Tuhan. Dalam segi tertentu Qadariyah mempunyai kesamaan ajaran dengan Mu’tazilah.

    Qadariyah
    Qadariyah mula-mula ditimbulkan pertama kali sekitar tahun 70 H/689 M, dipimpin oleh seorang bernama Ma’bad al-Juhani dan Ja’ad bin Dirham, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705 M). Menurut Ibn Nabatah, Ma’bad al-Juhani dan temannya Ghailan al-Dimasyqi mengambil faham ini dari seorang Kristen yang masuk Islam di Irak. Ma’ad al-Juhni adalah seorang tabi’in, pernah belajar kepada Washil bin Atho’, pendiri Mu’tazilah. Dia dihukum mati oleh al-Hajaj, Gubernur Basrah, karena ajaran-ajarannya. Dan menurut al-Zahabi, Ma’ad adalah seorang tabi’in yang baik, tetapi ia memasuki lapangan politik dan memihak Abd al-Rahman ibn al-Asy’as, gubernur Sajistan, dalam menentang kekuasaan Bani Umayyah. Dalam pertempuran dengan al-Hajjaj, Ma’ad mati terbunuh dalam tahun 80 H.
    Sedangkan Ghailan al-Dimasyqi adalah penduduk kota Damaskus. Ayahnya seorang yang pernah bekerja pada khalifah Utsman bin Affan. Ia datang ke Damaskus pada masa pemerintahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H). Ghailan juga dihukum mati karena faham-fahamnya. Ghailan sendiri menyiarkan faham Qadariyahnya di Damaskus, tetapi mendapat tantangan dari khalifah Umar ibn Abd al-Aziz. Menurut Ghailan, manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya, manusia sendirilah yang melakukan perbuatan-perbuatan baik atas kehendak dan kekuasaannya sendiri dan manusia sendiri pula yang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya sendiri. Dalam faham ini manusia merdeka dalam tingkah lakunya. Di sini tak terdapat faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah ditentukan terlebih dahulu, dan bahwa manusia dalam perbuatan-perbuatannya hanya bertindak menurut nasibnya yang telah ditentukan semenjak azal. Selain penganjur faham Qadariyah, Ghailan juga merupakan pemuka Murji’ah dari golongan al-Salihiah. Tokoh-tokoh faham Qadariyah antara lain : Abi Syamr, Ibnu Syahib, Galiani al-Damasqi, dan Saleh Qubbah.
    Kaum Qadariyah berpendapat bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut faham Qadaiyah, manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Dengan demikian nama Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar atau kadar Tuhan. Dalam istilah inggrisnya faham ini dikenal dengan nama free will dan free act.
    Mereka, kaum Qadariyah mengemukakan dalil-dalil akal dan dalil-dalil naqal (Al-Qur’an dan Hadits) untuk memperkuat pendirian mereka. Mereka memajukan dalil, kalau perbuatan manusia sekarang dijadikan oleh Tuhan, juga kenapakah mereka diberi pahala kalau berbuat baik dan disiksa kalau berbuat maksiat, padahal yang membuat atau menciptakan hal itu adalah Allah Ta’ala.
    Dikemukakan pula dalil dari ayat-ayat al-Qur’an yang ditafsirkan sendiri oleh kaum Qadariyah sesuai dengan madzhabnya, tanpa memperhatikan tafsir-tafsir dari Nabi dan sahabat Nabi ahli tafsir. Misalnya mereka kemukakan ayat, yang artinya :

    “Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barang yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”. (QS. Al-Kahfi : 29).
    Menurut Qadariyah, dalam ayat ini, bahwa iman dan kafir dari seseorang tergantung pada orang itu, bukan lagi kepada Tuhan. Ini suatu bukti bahwa manusialah yang menentukan, bukan Tuhan. Dalam segi tertentu Qadariyah mempunyai kesamaan ajaran dengan Mu’tazilah.