Tasawuf Akhlaqi


Manusia tercipta dari saripati tanah dijadikan Allah sebagai media untuk memerlihatkan ruhnya. Manusia tersusun dari berbagai bagian ada jasad, ruh, jiwa (qolbu) dan anggota badan. Tasawuf memandang ruh sebagai puncak dari segala realitas. Sementara jasad tak lain hanyalah sebagai “kendaraan” belaka yang berfungsi mengantarkan dari apa yang dikehendaki oleh pengemudi (ruh). Maka jalan spiritualitas lebih banyak menekankan pada aspek ruhani. Ruh inilah yang paling dominan dan paling menentukan atas segala ahwal dan ihwal manusia. Kedudukan ruh di sini sangat mempengaruhi moral dan akhlak manusia dalam pencapaian tazkiyatun nafs karena ruh berfungsi mengontrol segala aktifitas yang di lakukan anggota badan. Untuk mencapai derajat ulya, maka manusia harus melewati beberapa level dan kondisi di bawah bimbingan guru spiritual (dalam tasawuf dikenal dengan istilah mursyid).
Masing-masing dari mursyid mempunyai metode dan cara yang berbeda untuk mencapai darajatul ulya karena berbeda thoriqoh; diantaranya adalah thariqoh Qodariyah dan Naqsyabandiyah pasti berbeda begitu pula thariqoh Syathoriyah, Syadziliyah, Tijaniyah, Dasuqiyah pasti mempunyai “trik” yang berbeda pula. Ada yang menyebutnya dengan istilah mukasyafah (menyingkap) atau khuduri (menghadirkan) atau tawajjuh (berhadap-hadapan). Manusia dilatih dan diajari untuk membuka mata batin (ainul qalb) dan tazkiyatun nafs (membersihkan hati) melalui thariqoh tadi dan menempuh dari level satu ke level yang lebih tinggi lainya, dari kondisi tertentu ke kondisi lain yang lebih tinggi. Hingga manusia mencapai tingkatan fana (kosong/hampa) sehingga tidak ada lagi ada ego dalam dirinya, sehingga manusia sampai pada kondisi ” mukasyafah “,” khudur ” atau ” tawajjuh”.
Ketika insan di lahirkan dalam dunia fana ini manusia mempunyai kontrak dan masa aktif, setelah jatuh tempo manusia tidak bisa mengelak lagi. Untuk mempersiapkannya ada lima unsur penting, Syekh Sayyid Nur bin Sayyid Ali mengilustrasikan dan mentashawwurkan lima unsur tadi dengan sebuah kerajaan; maka ruh adalah sang raja yang menyinari, kalbu ibarat singgasananya, hawa nafsu atau syahwat sebagai kelompok oposisi yang selalu merong-rong, mengusik stabilitas kerajaan dan memprovokasi rakyat. Sedangkan totalitas jasad bagaikan wilayah kekuasaan dan anggota badan bagaikan rakyatnya. Dari lima unsur tersebut terjadilah pertarungan perebutan kekuasaan antara hawa nfsu dan ruh (ruhaniyah/spiritual) sebagai kekuatan positif dan hawa nafsu sebagai kekuatan negativ. Pertarungan antara keduanya dinamakan mujahadah. Mujahadah tersebut bertujuan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa atau ruh; sang raja) dan ishlah al qalb (perbaikan hati; singgasana) dari sifat dan akhlak tercela, seperti takabbur (sombong), riya’, hasud, hirs (ambisius), dan penyakit-penyakit hati lainya. Maka hal yang paling penting adalah menjaga dan merawat hati dari jeratan kekuasaan hawa nafsu.
Tasawuf akhlaqi berbeda dengan tasawuf falsafi, setelah melewati beberapa level dan fase diatas taswuf akhlaqi mengajak kembali ke alam nyata dan kembali masuk dalam aturan syariat, syariat yang telah diisi dengan pengalaman dan pengetahuan bertuhan, berbeda dengan tasawuf falsafi yang setelah melewati fase-fase tersebut justru malah keenakan menikmati indahnya bersatu dengan Tuhan, sehingga memunculkan perkataan yang tidak terkontrol (syathohat) dalam kondisi ekstase sambil berujar dan mengucapkan bahwa dirinyalah yang paling baik memuji bahwa dirinya sendiri sebagai Tuhan, ” ana al haq” sebagaimana yang telah diucapkan oleh Al Hallaj dan “wahdatul wujud” sebagaimana yang telah diucapkan oleh Ibnu Araby. Permasalhan ini bagi kaum khas atau khawasul khawas mungkin tidak begitu dipermasalahkan namun bagi orang awam yang memang hanya menjalankan syariat tanpa dibarengi dengan tasawuf ini akan memunculkan sebuah masalah baru dengan alasan untuk kemaslahtan umum menjaga keimanan dari kalangan umum atau alsan-alasan yang sejenis maka mau tidak mau ppara praktisi tasawuf falsafi ini menyandang predikat sesat dan akhirnya mati terbunuh dengan tragis dan mengenaskan.
Bertemu dan bersatu dengan Tuhan adalah klaim kaum sufi yang masih diperdebatkan oleh kaum teologis dan para pakar fikih. Bahakan menurut sebagian kalangan islam yang agak ekstrim bahwa praktik tasawuf dianggap bid’ah. Oleh karena itu kita dituntut untuk bisa memahami islam secara kaffah dari berbagai macam aspek baik dari sisi teologi, tasawuf, fikih, dan filasafat agar tidak mudah terjebak dalam suatu kondisi yang saling memojokkan dan menyalahkan antara yang satu dengan yang lainnya karena ketidakmengertian kita atas metodologi yang digunakan.
Apa yang dicontohkan Al Ghazali dan Al Rumi patut diteladani bagi para praktisi tasawuf, setelah bertemu dengan Tuhan beliau langsung pulang kembali. Al Ghazali menghiasi syari’at dengan nilai-nilai hakikat. Dan Al Rumi mengekspresikan kebahagiaan dan rasa cinta serta rindu yang mendalam pada sang khalik melalui simbol-simbol (cinta, mawar, cawan dll) yang terlukiskan dalam bentuk tulisan syair dan karya sastra . Tasawuf memang tidak mudah serta merta diterima oleh akal karena tolok ukur tasawuf bukan rasionalitas melainkan ainul qalb (mata batin) yang diyakini juga dalam diri setiap manusia. Yang kadang sepintas muncul dan kita tidak mengenalinya lalu tertutup (terhijab) lagi oleh potensi atau hal lain dalam diri kita
C. Beberapa Keyakinan dalam Tasawuf Akhlaqi dan Falsafi
a. Nur Muhammad
Persoalan Nur Muhammadi sebenarnya persoalan filsafat yang merembes masuk ke dunia tasawuf. Oleh karena itu, permasalahan ini sering muncul pada tataran tasawuf falsafi .
Ada dua versi keyakinan tentang Nur Muhammad ini:
1. Keyakinan bahwa memang makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah sebelum qalam, lauh al mahfuzh dan ‘arsy adalah nur (cahaya) Muhammad. Dari asal inilah semua makhluk (?? ??? ???? ) diciptakan .
2. Menurut versi kedua yang berasal dari ungkapan sya’ir maulid syaraful anam, nur Muhammad itu berasal dari tanah yang diambil dari makam Rasulullah di Madinah. Malaikat Jibril membawa tanah tersebut berkeliling surga dan mencucinya di Telaga Tasnim. Kemudian nur itu dititipkan pada sulbi Nabi Adam. Nabi Adam berjanji akan memeliharanya dan hanya diturunkan kepada sulbi dan rahim orang-orang suci .
Teori yang paling dominan dalam memahami Nur Muhammad adalah menurut konsep Ibn Arabi, meskipun ia bukan pencetus pertama. Konsep Nur Muhammad pertama ada pada al-Tustari, kemudian pada muridnya, al-Hallaj.
Tuhan, menurut Ibn Arabi adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Ia ingin dikenal, tapi Tuhan Maha Transenden (tasbih/tanazzuh), siapapun tidak akan dapat mengenalnya secara langsung karena Ia tidak ada duanya (??? ????? ???). Istilah Ibn Arabi ”la ta’ayun”. Maka satu-satunya jalan untuk mengenalnya ialah melalui makhluk ciptaannya. Sebab persepsi rasio dan indera tidak akan mampu mengenal zat-Nya yang asli.. Melihat angin saja mata tidak mampu, begitu juga menatap matahari, apalagi Tuhan.
Satu-satunya jalan agar Allah bisa dikenal adalah bertajalli kepada makhluk, ciptaannya. Tajalli Tuhan yang sempurna ada pada manusia. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan, maka Adam adalah makhluk yang layak untuk menerima tajalli Allah, tetapi Adam kalah mulia dari Muhammad Saw yang dilahirkan sebagai Nabi Terakhir, kerana keberadaan Nur Muhammad lebih dahulu daripada Adam. Malah menurut Ibn Arabi nama Nur Muhammad itu bukan hanya satu, bahkan sampai 22 nama, termasuk hakikat Muhammadiyah, roh Muhammad, khalifah, akal pertama, namun maksudnya hanya satu, yaitu makhluk pertama yang dengannya Tuhan dapat bertajalli secara sempurna. Makhluk ini sebagai inti dan bahan alam semesta.
b. Wahdatul Adyan (atau dalam istilah Hazrat Inayat Khan , Universal Sufism)
Konsep wahdatul adyan sebenarnya tidak baru karena sudah dikenal dalam tradisi sufistik masa lalu, namun konsep ini menarik untuk ditilik dan ditela’ah kembali. Wahdatul adyan (kesatuan agama), demikian konsep tersebut dinamai, mengajarkan bahwa pada hakikatnya semua agama bertujuan sama dan mengabdi kepada Tuhan yang sama pula. Perbedaan yang ada hanyalah pada aspek lahiriah yakni penampilan-penampilan dan tata cara dalam melak ukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam konsep ini tidak ada lagi superioritas dan inferioritas agama karena berasal dari satu sumber yakni Tuhan.
Agama adalah serangkaian kesadaran manusia tentang eksistensi sesuatu yang telah menjadi pedoman hidup yang bersumber dari Tuhan. Dan agama yang adalah kesadaran itu sendiri berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi dan larangan-larangan yang harus dihindari, sehingga apa yang menjadi pilihan benar-benar merupakan kesadaran atas kehendaknya sendiri bukan atas dasar keterpaksaan. Inilah agama, tidak ada paksaan dalam beragama , karena agama adalah sebuah keyakinan dari sederetan pengetahuan yang membentuk kesadaran yang tak terelakkan. agama merupakan sumber ideologi yang diberikan Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya sebagai ideologi-pedoman hidup-untuk manusia melalui para utusan-Nya
Namun pada kenyataannya dalam kehidupan ini terdapat banyak ‘agama’, dan setiap ‘agama’ pun mempunyai beragam sekte (aliran), dimana setiap aliran mempunyai ideologinya masing-masing. Dalam persoalan seperti ini yang menjadi pertanyaan adalah apakah Tuhan memberikan banyak agama atau satu agama?
Semua agama yang namanya berbeda-beda: Islam, Yahudi, Kristen, dan lainnya hanyalah perbedaan nama, namun hakikatnya satu jua . Semua agama yang namanya berbeda-beda adalah jalan menuju Allah. Orang yang memilih agama atau lahir dalam lingkungan keluarga yang menganut salah satu agama, bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi telah ditentukan atau sudah ditakdirkan Allah. Dan begitu juga ibadah (ritual) yang berbeda warna dan cara, isinya hanya satu ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak perlu seorang mencela agama lain karena agama itu semua benar karena berasal dari Allah.
c. Hulul, Al Ittihad dan Wahdatul Wujud
Pemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wahdah al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah. Maka, tidaklah segala yang nampak ini kecuali penjelmaan dzat-Nya semata. Yaitu, Allah .
Ibnu Arabi berkata: “Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah Allah mengetahui kecuali Allah”. Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah orang-orang yang mengatakan :”Akulah Allah, Maha Suci Aku”. Seperti, Abu Yazid Al-Bustahmi. Katanya: “Rabb itu haq dan hamba itu haq. Maka, betapa malangku. Siapakah kalau demikian yang menjadi hamba? Jika aku katakan hamba, maka yang demikian itu haq, atau aku katakan Rabb, sesungguhnya aku hamba”. Dikatakan pula: “Suatu saat hamba menjadi Rabb tanpa diragukan, dan suatu saat seorang hamba menjadi hamba tanpa kedustaan”.
Salah satu tokoh yang fenomenal dalam wahdatul wujud adalah Abu Mansur Al Hallaj . Ia terkenal karena berkata: “Akulah Kebenaran (Ana al Haq)”, ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal.
d. Thariqah
Kurang lebih, arti dari syi’ir tersebut adalah bahwa syari’ah (aturan-aturan agama) dianalogikan sebagai perahu, sedangkan thariqah merupakan lautan yang diarungi dengan perahu tadi. Sedangkan haqiqah merupakan mutiara yang tersembunyi di dalam laut.
Thariqat, menurut para sufi, merupakan himpunan tugas-tugas perbaikan temporan-kondisional yang didasarkan pada pokok-pokok latihan pembelajaran yang dijadikan sebagai media untuk mencapai kesucian jiwa dan ketenangan kalbu, yaitu kesucian jiwa dari berbagai kotoran dan penolakan terhadap penyakit-penyakit hati. Dengan kata lain, thariqah ialah media untuk membersihkan wilayah batin dari berbagai serangga dan pepohonan berduri yang membahayakan pertumbuhan tanaman keimanan. Wabah tersebut ialah kemusyrikan (syirk), arogansi (takabbur), marah (ghadhab), dendam (hiqdu) dan perbuatan-perbuatan lain. Setelah pembersihan tersebut, diupayakan pemutusan segala hasrat seksual (syahwat) dan keinginan-keinginan biologis (hawa nafs) yang diharamkan, serta mengurung diri dari berbagai tuntutan maksiat dan kemungkaran .
Ayat-ayat Al-Quran
Beberapa ayat Al-Quran al-Karim menandasakan adanya qadha dan qadar serta pengaruh mutlaknya, dan bahwa setiap peristiwa alami pasti telah didahului oleh Kehendak Ilahi dan bahwa hal itu telah tersurat sebelumnya dalam suatu “kitab yang nyata”. Misalnya: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam suatu kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs.  Al-Hadid [57]: 22) “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.” (Qs. Al-An’am [6] : 59)
“Mereka berkata: “Aapakah ada bagi kita barang sesuatu hak (campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan apa yang tidak mereka terangkan kepadamu, mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh atau dikalahkan di sini.” Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh.” (Qs. Ali Imran [3] : 154)
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr [15] : 21)
“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (qadar) bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. Thalaq [65] : 3)
“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (Qs. Al-Qamar [54] : 49)
“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim [14] :4)
“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan orangyang Engkau kehendaki; Engkau muliakan orangyang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali Imran [3] : 26)
Sedangkan contoh ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya, mampu mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya adalah sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ra’ad [13] : 11)
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram; rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Qs. Al-Nahl [16]:112)
“Allah tidak sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut [29] : 40)
“Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Qs. Fushshilat [41] : 46)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinyajalanyang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Qs. Al-Insan [76] : 3)
“Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir.” (Qs. Al-Kahf [18] : 29)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (Qs. Al-Rum [30] : 41)
“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya; dan barangsiapa mengehendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia.” (Qs. Al-Syura [42] : 20)
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu; dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (Qs.  Al-Isra [17]: 18-20)

Manusia tercipta dari saripati tanah dijadikan Allah sebagai media untuk memerlihatkan ruhnya. Manusia tersusun dari berbagai bagian ada jasad, ruh, jiwa (qolbu) dan anggota badan. Tasawuf memandang ruh sebagai puncak dari segala realitas. Sementara jasad tak lain hanyalah sebagai “kendaraan” belaka yang berfungsi mengantarkan dari apa yang dikehendaki oleh pengemudi (ruh). Maka jalan spiritualitas lebih banyak menekankan pada aspek ruhani. Ruh inilah yang paling dominan dan paling menentukan atas segala ahwal dan ihwal manusia. Kedudukan ruh di sini sangat mempengaruhi moral dan akhlak manusia dalam pencapaian tazkiyatun nafs karena ruh berfungsi mengontrol segala aktifitas yang di lakukan anggota badan. Untuk mencapai derajat ulya, maka manusia harus melewati beberapa level dan kondisi di bawah bimbingan guru spiritual (dalam tasawuf dikenal dengan istilah mursyid).Masing-masing dari mursyid mempunyai metode dan cara yang berbeda untuk mencapai darajatul ulya karena berbeda thoriqoh; diantaranya adalah thariqoh Qodariyah dan Naqsyabandiyah pasti berbeda begitu pula thariqoh Syathoriyah, Syadziliyah, Tijaniyah, Dasuqiyah pasti mempunyai “trik” yang berbeda pula. Ada yang menyebutnya dengan istilah mukasyafah (menyingkap) atau khuduri (menghadirkan) atau tawajjuh (berhadap-hadapan). Manusia dilatih dan diajari untuk membuka mata batin (ainul qalb) dan tazkiyatun nafs (membersihkan hati) melalui thariqoh tadi dan menempuh dari level satu ke level yang lebih tinggi lainya, dari kondisi tertentu ke kondisi lain yang lebih tinggi. Hingga manusia mencapai tingkatan fana (kosong/hampa) sehingga tidak ada lagi ada ego dalam dirinya, sehingga manusia sampai pada kondisi ” mukasyafah “,” khudur ” atau ” tawajjuh”.Ketika insan di lahirkan dalam dunia fana ini manusia mempunyai kontrak dan masa aktif, setelah jatuh tempo manusia tidak bisa mengelak lagi. Untuk mempersiapkannya ada lima unsur penting, Syekh Sayyid Nur bin Sayyid Ali mengilustrasikan dan mentashawwurkan lima unsur tadi dengan sebuah kerajaan; maka ruh adalah sang raja yang menyinari, kalbu ibarat singgasananya, hawa nafsu atau syahwat sebagai kelompok oposisi yang selalu merong-rong, mengusik stabilitas kerajaan dan memprovokasi rakyat. Sedangkan totalitas jasad bagaikan wilayah kekuasaan dan anggota badan bagaikan rakyatnya. Dari lima unsur tersebut terjadilah pertarungan perebutan kekuasaan antara hawa nfsu dan ruh (ruhaniyah/spiritual) sebagai kekuatan positif dan hawa nafsu sebagai kekuatan negativ. Pertarungan antara keduanya dinamakan mujahadah. Mujahadah tersebut bertujuan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa atau ruh; sang raja) dan ishlah al qalb (perbaikan hati; singgasana) dari sifat dan akhlak tercela, seperti takabbur (sombong), riya’, hasud, hirs (ambisius), dan penyakit-penyakit hati lainya. Maka hal yang paling penting adalah menjaga dan merawat hati dari jeratan kekuasaan hawa nafsu.Tasawuf akhlaqi berbeda dengan tasawuf falsafi, setelah melewati beberapa level dan fase diatas taswuf akhlaqi mengajak kembali ke alam nyata dan kembali masuk dalam aturan syariat, syariat yang telah diisi dengan pengalaman dan pengetahuan bertuhan, berbeda dengan tasawuf falsafi yang setelah melewati fase-fase tersebut justru malah keenakan menikmati indahnya bersatu dengan Tuhan, sehingga memunculkan perkataan yang tidak terkontrol (syathohat) dalam kondisi ekstase sambil berujar dan mengucapkan bahwa dirinyalah yang paling baik memuji bahwa dirinya sendiri sebagai Tuhan, ” ana al haq” sebagaimana yang telah diucapkan oleh Al Hallaj dan “wahdatul wujud” sebagaimana yang telah diucapkan oleh Ibnu Araby. Permasalhan ini bagi kaum khas atau khawasul khawas mungkin tidak begitu dipermasalahkan namun bagi orang awam yang memang hanya menjalankan syariat tanpa dibarengi dengan tasawuf ini akan memunculkan sebuah masalah baru dengan alasan untuk kemaslahtan umum menjaga keimanan dari kalangan umum atau alsan-alasan yang sejenis maka mau tidak mau ppara praktisi tasawuf falsafi ini menyandang predikat sesat dan akhirnya mati terbunuh dengan tragis dan mengenaskan.Bertemu dan bersatu dengan Tuhan adalah klaim kaum sufi yang masih diperdebatkan oleh kaum teologis dan para pakar fikih. Bahakan menurut sebagian kalangan islam yang agak ekstrim bahwa praktik tasawuf dianggap bid’ah. Oleh karena itu kita dituntut untuk bisa memahami islam secara kaffah dari berbagai macam aspek baik dari sisi teologi, tasawuf, fikih, dan filasafat agar tidak mudah terjebak dalam suatu kondisi yang saling memojokkan dan menyalahkan antara yang satu dengan yang lainnya karena ketidakmengertian kita atas metodologi yang digunakan.Apa yang dicontohkan Al Ghazali dan Al Rumi patut diteladani bagi para praktisi tasawuf, setelah bertemu dengan Tuhan beliau langsung pulang kembali. Al Ghazali menghiasi syari’at dengan nilai-nilai hakikat. Dan Al Rumi mengekspresikan kebahagiaan dan rasa cinta serta rindu yang mendalam pada sang khalik melalui simbol-simbol (cinta, mawar, cawan dll) yang terlukiskan dalam bentuk tulisan syair dan karya sastra . Tasawuf memang tidak mudah serta merta diterima oleh akal karena tolok ukur tasawuf bukan rasionalitas melainkan ainul qalb (mata batin) yang diyakini juga dalam diri setiap manusia. Yang kadang sepintas muncul dan kita tidak mengenalinya lalu tertutup (terhijab) lagi oleh potensi atau hal lain dalam diri kitaC. Beberapa Keyakinan dalam Tasawuf Akhlaqi dan Falsafia. Nur MuhammadPersoalan Nur Muhammadi sebenarnya persoalan filsafat yang merembes masuk ke dunia tasawuf. Oleh karena itu, permasalahan ini sering muncul pada tataran tasawuf falsafi .Ada dua versi keyakinan tentang Nur Muhammad ini:1. Keyakinan bahwa memang makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah sebelum qalam, lauh al mahfuzh dan ‘arsy adalah nur (cahaya) Muhammad. Dari asal inilah semua makhluk (?? ??? ???? ) diciptakan .2. Menurut versi kedua yang berasal dari ungkapan sya’ir maulid syaraful anam, nur Muhammad itu berasal dari tanah yang diambil dari makam Rasulullah di Madinah. Malaikat Jibril membawa tanah tersebut berkeliling surga dan mencucinya di Telaga Tasnim. Kemudian nur itu dititipkan pada sulbi Nabi Adam. Nabi Adam berjanji akan memeliharanya dan hanya diturunkan kepada sulbi dan rahim orang-orang suci .
Teori yang paling dominan dalam memahami Nur Muhammad adalah menurut konsep Ibn Arabi, meskipun ia bukan pencetus pertama. Konsep Nur Muhammad pertama ada pada al-Tustari, kemudian pada muridnya, al-Hallaj.Tuhan, menurut Ibn Arabi adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Ia ingin dikenal, tapi Tuhan Maha Transenden (tasbih/tanazzuh), siapapun tidak akan dapat mengenalnya secara langsung karena Ia tidak ada duanya (??? ????? ???). Istilah Ibn Arabi ”la ta’ayun”. Maka satu-satunya jalan untuk mengenalnya ialah melalui makhluk ciptaannya. Sebab persepsi rasio dan indera tidak akan mampu mengenal zat-Nya yang asli.. Melihat angin saja mata tidak mampu, begitu juga menatap matahari, apalagi Tuhan.Satu-satunya jalan agar Allah bisa dikenal adalah bertajalli kepada makhluk, ciptaannya. Tajalli Tuhan yang sempurna ada pada manusia. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan, maka Adam adalah makhluk yang layak untuk menerima tajalli Allah, tetapi Adam kalah mulia dari Muhammad Saw yang dilahirkan sebagai Nabi Terakhir, kerana keberadaan Nur Muhammad lebih dahulu daripada Adam. Malah menurut Ibn Arabi nama Nur Muhammad itu bukan hanya satu, bahkan sampai 22 nama, termasuk hakikat Muhammadiyah, roh Muhammad, khalifah, akal pertama, namun maksudnya hanya satu, yaitu makhluk pertama yang dengannya Tuhan dapat bertajalli secara sempurna. Makhluk ini sebagai inti dan bahan alam semesta.b. Wahdatul Adyan (atau dalam istilah Hazrat Inayat Khan , Universal Sufism)Konsep wahdatul adyan sebenarnya tidak baru karena sudah dikenal dalam tradisi sufistik masa lalu, namun konsep ini menarik untuk ditilik dan ditela’ah kembali. Wahdatul adyan (kesatuan agama), demikian konsep tersebut dinamai, mengajarkan bahwa pada hakikatnya semua agama bertujuan sama dan mengabdi kepada Tuhan yang sama pula. Perbedaan yang ada hanyalah pada aspek lahiriah yakni penampilan-penampilan dan tata cara dalam melak ukan ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam konsep ini tidak ada lagi superioritas dan inferioritas agama karena berasal dari satu sumber yakni Tuhan.Agama adalah serangkaian kesadaran manusia tentang eksistensi sesuatu yang telah menjadi pedoman hidup yang bersumber dari Tuhan. Dan agama yang adalah kesadaran itu sendiri berupa kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi dan larangan-larangan yang harus dihindari, sehingga apa yang menjadi pilihan benar-benar merupakan kesadaran atas kehendaknya sendiri bukan atas dasar keterpaksaan. Inilah agama, tidak ada paksaan dalam beragama , karena agama adalah sebuah keyakinan dari sederetan pengetahuan yang membentuk kesadaran yang tak terelakkan. agama merupakan sumber ideologi yang diberikan Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya sebagai ideologi-pedoman hidup-untuk manusia melalui para utusan-NyaNamun pada kenyataannya dalam kehidupan ini terdapat banyak ‘agama’, dan setiap ‘agama’ pun mempunyai beragam sekte (aliran), dimana setiap aliran mempunyai ideologinya masing-masing. Dalam persoalan seperti ini yang menjadi pertanyaan adalah apakah Tuhan memberikan banyak agama atau satu agama?Semua agama yang namanya berbeda-beda: Islam, Yahudi, Kristen, dan lainnya hanyalah perbedaan nama, namun hakikatnya satu jua . Semua agama yang namanya berbeda-beda adalah jalan menuju Allah. Orang yang memilih agama atau lahir dalam lingkungan keluarga yang menganut salah satu agama, bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi telah ditentukan atau sudah ditakdirkan Allah. Dan begitu juga ibadah (ritual) yang berbeda warna dan cara, isinya hanya satu ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tidak perlu seorang mencela agama lain karena agama itu semua benar karena berasal dari Allah.c. Hulul, Al Ittihad dan Wahdatul WujudPemahaman hulul wa al-ittihad mengantarkan para sufi pada perkataan wahdah al-wujud. Istilah ini berdasar pola pikir orang-orang sufi bermakna, bahwa dalam hal ini tidak ada yang wujud kecuali Allah. Maka, tidaklah segala yang nampak ini kecuali penjelmaan dzat-Nya semata. Yaitu, Allah .Ibnu Arabi berkata: “Tidak ada yang tampak ini kecuali Allah, dan tidaklah Allah mengetahui kecuali Allah”. Dan termasuk dalam keyakinan ini adalah orang-orang yang mengatakan :”Akulah Allah, Maha Suci Aku”. Seperti, Abu Yazid Al-Bustahmi. Katanya: “Rabb itu haq dan hamba itu haq. Maka, betapa malangku. Siapakah kalau demikian yang menjadi hamba? Jika aku katakan hamba, maka yang demikian itu haq, atau aku katakan Rabb, sesungguhnya aku hamba”. Dikatakan pula: “Suatu saat hamba menjadi Rabb tanpa diragukan, dan suatu saat seorang hamba menjadi hamba tanpa kedustaan”.Salah satu tokoh yang fenomenal dalam wahdatul wujud adalah Abu Mansur Al Hallaj . Ia terkenal karena berkata: “Akulah Kebenaran (Ana al Haq)”, ucapan yang membuatnya dieksekusi secara brutal.
d. ThariqahKurang lebih, arti dari syi’ir tersebut adalah bahwa syari’ah (aturan-aturan agama) dianalogikan sebagai perahu, sedangkan thariqah merupakan lautan yang diarungi dengan perahu tadi. Sedangkan haqiqah merupakan mutiara yang tersembunyi di dalam laut.Thariqat, menurut para sufi, merupakan himpunan tugas-tugas perbaikan temporan-kondisional yang didasarkan pada pokok-pokok latihan pembelajaran yang dijadikan sebagai media untuk mencapai kesucian jiwa dan ketenangan kalbu, yaitu kesucian jiwa dari berbagai kotoran dan penolakan terhadap penyakit-penyakit hati. Dengan kata lain, thariqah ialah media untuk membersihkan wilayah batin dari berbagai serangga dan pepohonan berduri yang membahayakan pertumbuhan tanaman keimanan. Wabah tersebut ialah kemusyrikan (syirk), arogansi (takabbur), marah (ghadhab), dendam (hiqdu) dan perbuatan-perbuatan lain. Setelah pembersihan tersebut, diupayakan pemutusan segala hasrat seksual (syahwat) dan keinginan-keinginan biologis (hawa nafs) yang diharamkan, serta mengurung diri dari berbagai tuntutan maksiat dan kemungkaran .
Ayat-ayat Al-Quran
Beberapa ayat Al-Quran al-Karim menandasakan adanya qadha dan qadar serta pengaruh mutlaknya, dan bahwa setiap peristiwa alami pasti telah didahului oleh Kehendak Ilahi dan bahwa hal itu telah tersurat sebelumnya dalam suatu “kitab yang nyata”. Misalnya: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi, dan tidak pula pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam suatu kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (Qs.  Al-Hadid [57]: 22) “Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.” (Qs. Al-An’am [6] : 59)
“Mereka berkata: “Aapakah ada bagi kita barang sesuatu hak (campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan apa yang tidak mereka terangkan kepadamu, mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh atau dikalahkan di sini.” Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh.” (Qs. Ali Imran [3] : 154)
“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.” (Qs. Al-Hijr [15] : 21)
“Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan (qadar) bagi tiap-tiap sesuatu.” (Qs. Thalaq [65] : 3)
“Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran).” (Qs. Al-Qamar [54] : 49)
“Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim [14] :4)
“Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan orangyang Engkau kehendaki; Engkau muliakan orangyang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Ali Imran [3] : 26)
Sedangkan contoh ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia memiliki kebebasan dalam perbuatannya, mampu mempengaruhi masa depan dan nasibnya dan dapat pula mengubahnya adalah sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ra’ad [13] : 11)
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram; rizkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (Qs. Al-Nahl [16]:112)
“Allah tidak sekali-kali hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut [29] : 40)
“Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (Qs. Fushshilat [41] : 46)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinyajalanyang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” (Qs. Al-Insan [76] : 3)
“Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin beriman, hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir.” (Qs. Al-Kahf [18] : 29)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.” (Qs. Al-Rum [30] : 41)
“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya; dan barangsiapa mengehendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia.” (Qs. Al-Syura [42] : 20)
“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan baginya neraka jahanam, ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu; dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (Qs.  Al-Isra [17]: 18-20)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: